Mencoba menengok sejenak tentang “NetFlix”
Pagi-pagi dikantor sambil nunggu kerjaan render saya selesei, daripada bingung ga ada juntrungnya iseng-iseng saya browsing di Internet dan saya menemukan istilah “NetFlix”. Istilah yang terus terang baru saya dengar saat ini, ga’ tau saya yang lagi kuper apa memang itu istilah baru didunia IT. Kalau sepintas saya melihat, “NetFlix” itu hampir sama dengan Rental Film didunia nyata namun yang satu ini terdapat didunia maya. Seperti itulah yang populer saat ini di Amerika. Berikut yang saya dapat dari Wikipedia tentang “NetFlix” itu sendiri Netflix (NASDAQ: NFLX) adalah salah satu penyewaan DVD daring pertama dan terbesar, menawarkan penyewaan DVD lewat surat secara flat rate kepada pelanggan di Amerika Serikat. Berpusat di Los Gatos, California, saat ini mereka memiliki koleksi sebanyak 65.000 judul dan sekitar 5 juta pelanggan. Saat ini Netflix mengeluarkan biaya US$300 juta setahun untuk mengirim 1,4 juta film setiap hari (Sumber) .
Ketika berpikir tentang menonton film, Netflix adalah hal pertama yang teringat di kepala. Sejak beberapa tahun terakhir Netflix membuat aktivitas menonton film warga Negeri Paman Sam jadi jauh lebih mudah. Mudah karena mereka tidak perlu repot datang ke tempat rental DVD, lantas mengembalikannya setelah jangka waktu sewa habis. Dengan Netflix, pengguna cukup duduk di sofa rumahnya. Tidak hanya DVD (movie), ternyata game juga bisa disewakan. Gamefly mengambil bisnis model ini. Pesan lewat katalog online, game akan dikirim ke rumah Anda. Mainkan game sepuasnya, tanpa khawatir denda telat mengembalikan. Begitu dikembalikan, Anda akan dikirimi game lain dalam daftar pesan Anda.
Adapun yang mereka butuhkan hanya laptop ataupun ponsel dengan sambungan internet broadband. Tak hanya laptop tapi juga PlayStation 3, Xbox 360, Wii, hingga smartphone Android maupun iPhone. Semua orang bisa mengakses Netflix. Cukup membayar sewa bulanan yang jumlahnya hanya beberapa dolar, mereka diberi akses ke perpustakaan video streaming film milik Netflix yang jumlahnya mencapai 100.000 judul dari berbagai genre dan era.
Cara lainnya adalah meminta Netflix mengirim film yang ingin ditonton lewat pos. Waktu sewanya dibatasi sebulan atau sampai ada orang lain yang ingin menyewa judul film Anda. Kesuksesan Netflix adalah software yang disebut Cinematch. Aplikasi ini membaca preferensi pelanggan terhadap DVD yang mereka tonton. Salah satunya untuk merekomendasikan DVD tertentu kepada pelanggan tertentu, sambil mencocokkan stok DVD yang mereka miliki di inventory mereka. Sepanjang kuartal keempat 2010 silam, Netflix meraih 4 juta pelanggan baru.
Total pelanggannya saat ini mencapai 20 juta orang. Pada akhir Maret 2011 mendatang, mereka juga optimistis bisa mendapat tambahan 3,7 juta pelanggan lagi. Begitu populernya layanan Netflix, perusahaan ini disebut-sebut menjadi ancaman bagi layanan televisi berbayar, khususnya saluran premium seperti HBO. Hubungan Netflix dengan studio film tergolong unik. Betul, Netflix memberikan pendapatan jutaan dolar kepada studio karena mereka harus membayar lisensi setiap film yang disewakan.
Namun, di sisi lain, Netflix akan menjadi kompetitor besar karena warga Amerika mulai kehilangan minat untuk berlangganan TV kabel maupun membeli DVD orisinal. Layanan on-demand video streaming milik Netflix lebih difavoritkan karena kemudahannya. (Sumber)
Oke, sekarang mari terbang kembali ke Indonesia. VideoEzy, ada di antara Anda yang sempat atau masih jadi pelanggan? Sewaktu masih tinggal di Jogja, saya sempat menjadi saksi tutupnya salah satu cabang VideoEzy. Tampaknya mereka kalah bersaing dengan jaringan rental DVD bajakan yang semakin solid. Namun masih banyak kekurangan dari VideoEzy itu sendiri. Yang pertama tentu saja soal keterbaruan koleksi. Mungkin bisa kita ambil secara gamblang saja, jika kita mampu membeli tiket bioskop untuk film terbaru maka kita tak perlu pergi ke VideoEzy. VideoEzy tidak bisa mengikuti tren film terbaru. Kalau pun bisa, konsumen akan lebih memilih menonton di bioskop.
Yang kedua, masalah variasi koleksi. Selera umum konsumen disini tentu saja berkisar pada film-film terbaru. Namun selera khusus konsumen tak punya batasan variasi. VideoEzy bukan layanan terpusat seperti “Netflix” dan Amazon yang punya repositori besar. Ketersebaran VideoEzy membuat repositorinya tidak bisa memenuhi kebutuhan Long Tail konsumen. Ketika konsumen telah terpenuhi kebutuhan umumnya, mereka akan beralih ke kebutuhan khusus. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan khusus, layanan seperti VideoEzy tidak akan bisa punya pelanggan tetap.
Kenapa model bisnis Netflix dan Gamefly tampaknya tidak cocok diimplementasikan di Indonesia?
Hal yang pertama adalah masalah Pricing. Untuk film baru, bioskop bisa memberi lebih banyak value dengan harga yang bersaing. Harga yang dipatok layanan seperti VideoEzy simply terlalu mahal. Rental/kios DVD bajakan, di lain sisi bisa sukses karena koleksinya relatif lebih lengkap dan patokan harganya bersaing (value lebih). Untuk mengadopsi model Netflix dan Gamefly, pricing harus disesuaikan dengan variabel-variabel lokal.
Dan yang kedua yang wajib diperhatikan adalah Hukum. Hukum tampaknya tak mampu mencegah DVD bajakan sebagai alternatif ekonomis untuk menikmati dan mengkoleksi film. Pun hukum ini bisa berjalan, tampaknya masih akan berat sebelah. Bayangkan misalnya jika ada operator agak abal-abal dengan harga sepersepuluh dari rata-rata yang ditawarkan operator saat ini. Kita mungkin akan memilih operator abal-abal ini. Hukum tidak melarang operator ini untuk berjualan dengan harga berapapun. Hukum masih berdiri di sisi produsen.
Soal hukum ini, sebenarnya saya ragu-ragu apa memang ada pengaruhnya. Karena semua pasti akan kembali ke dasar, yakni soal harga. Peran hukum di sini mungkin untuk meniadakan alternatif ilegal, dengan tujuan memberikan lingkungan yang kondusif dan fair untuk berkompetisi. (Sumber)
–
Dan bagaimana menurut Anda?
Posted on Maret 22, 2011, in IT and tagged bajakan, netflix. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.


Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)